Setiap peradaban akan runtuh, dan tidak ada cara untuk menghentikannya. Satu-satunya hal yang dapat kita pikirkan adalah bagaimana hal itu akan terjadj, jika reruntuhan yang terjadi terjadi secara perlahan dan damai, atau akan berlangsung cepat dan disertai dengan kehancuran orang barbar.
Kurang lebih itulah yang terjadi pada peradaban Romawi Kuno, yang mengalmai keruntuhan di pertengahan milenial pertama mesehi. Jatuhnya Kekaisaran Romawi menyeret Eropa ke Zaman Kegelapan, sehingga membutuhkan waktu selama berabad-abad untuk memulihkannya kembali seperti semula.
Jika kita belajar dari sejarah, kita akan melihat beberapa persamaan yang menakutkan dari peradaban Rowami dengan peradaban modern saat ini. Dan jika sejarah benar-benar terulang, kita bisa memprediksi segala hal yang akan terjadj selanjutnya.
Inilah 8 Pelajaran yang bisa kita petik dari keruntuhan Rowami Kuno
Pada puncaknya. uang mengalir deras ke dalam Kekaisaran Romawi. Kaisar dan pemerintah Rowami tertimbun di dalam berlimpahnya harta yang turut membantu mereka untuk mengendalikan wilayah kekuasaannya yang luas. Namun hanya karena mereka memiliki banyak sekali uang, bukan berarti orang romawi adalah bangsa yang kaya raya.
Alih-alih mempekerjakan orang mereka sendiri, orang Rowami sebenarnya memakai budak untuk melakukan sebagian besar pekerjaan mereka. Sebagian besar proses produksi juga dilakukan oleh para budak dan oleh karena itu banyak orang Rowami yang menganggur dan tergantung pada subsidi pemerintah untuk bertahan hidup.
Perusahaan modern saat ini memang tidak mempekerjakan budak, tapi bisa dikatakan bahwa yang mereka lakukan hampir mirip dengan perbudakan. Seperti Rowami, negara-negara Barat yang cenderung membeli barang dari tempat yang terkadang hanya membayar pekerja mereka sebesar 62 sen per jamnya.
Untuk kasus lain, sekitar 60 persen orang Amerika membeli barang yang dibuat di luar negeri. Dan China, yang saat ini memproduksi sekitar 50 persen pakaian dunia dan lebih dari menguasai 70 persen dari produksi sel.
Namun, pelajaran yang sebenarnya bisa kita ambil dari Roma adalah apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada akhirnya, para budak mulai menuntut hak dan pemberontakan mereka. Sementara itu, orang-orang Romawi sudah dipengaruhi oleh moralitas Kristen, mulai merasa tidak enak untuk penggunaan budak lagi.
Oleh karena itu, sistem kerja mereka mulai runtuh bersama dengan penghapusan perbudakan, karena tenaga kerja budak adalah tulang punggung ekonomi.
2. Obesitas adalah aib dan sudah menjadi wabah yang tidak bisa dikasihani
Rata-rata orang Romawi mungkin tidak gemuk. Banyak warga sipil Romawi yang berjuang hanya untuk mendapatkan makanan, tetapi yang dialami para bangsawan Romawi adalah hal yang berbeda.
Orang kaya Romawi menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengadakan pesta pora, sehingga sudah menjadi kebiasaan mereka untuk muntah saat makan siang. Bahkan setelah menyaksikan Kaisar Nero dan teman-temannya mengadakan pesta, filsuf Seneca menulis bahwa orang kaya Roma “muntah agar bisa makan; dan makan agar muntah."
Hal itu tidak hanya terjadi pada Nero. Diceritakan bahwa Julius Caesar pernah lolos dari upaya pembunuhan karena dia keluar untuk memuntahkan makanannya. Kaisar Vitellius juga memiliki reputasi untuk memulai hari dengan sarapan sampai bersendawa di hadapan prajuritnya.
Di era modern ini, orang miskin di negara yang makmur biasanya menjadi gemuk, terutama di Amerika Selatan. Bahkan di beberapa negara tingkat diabetes tipe 2 dua kali lebih tinggi dari 20 tahun yang lalu. Faktanya, sepertiga populasi dunia saat ini mengalami obesitas.
Namun, pelajaran nyata dari Romawi adalah bahwa melakukan sesuatu yang berlebihan akan membuat banyak orang berbalik melawanmu. Alasan mengapa kisah tentang kaisar-kaisar Romawi ini diceritakan secara turun-temurun adalah karena orang-orang ingin membuat mereka terlihat buruk.
Di saat mereka hidup nyaman dan berfoya-foya, orang-orang miskin di sekitarnya kelaparan. Pada akhirnya mereka hanya mendapatkan kebencian, perang, dan banyak masalah kesehatan karena kebiasaannya tersebut.
3. Pertentangan kelas akan menimbulkan bencana
Ketika Romawi masih menjadi sebuah republik, salah satu masalah internal terbesarnya adalah pertarungan antara kaum patrician dan kaum plebeian. Kaum patrician adalah bangsawan yang memperoleh status mereka melalui kelahiran, sedangkan kaum plebeian adalah orang-orang biasa yang hidup dengan keterbatasan ekonomi.
Seperti masyarakat modern, kaum plebeian memperjuangkan hak mereka untuk mendapatkan kesetaraan. Mereka akhirnya mendapat kesempatan untuk berperan dalam politik Romawi, dan mendapat kesempatan untuk menjadi orang kaya.
Setelahnya, mereka membantu satu sama lain agar menjadi kaya dengan memilih sesama plebeian, kemudian duduk dan menunggu teman-teman mereka membuat utopia baru.
Namun hal itu tidaklah berhasil, karena orang kaya baru dari kaum plebeian tidak membantu teman-teman lama mereka. Mereka hanya menghabiskan uang dan menikmati hidup sebagai orang kaya.
Untuk sementara, keadaan terlihat lebih baik dan mereka pikir pemerintahan baru mereka masih berjalan normal, sampai ledakan ekonomi yang disebabkan oleh perang terjadi. Ketika semuanya kembali ke awal, mereka menjadi lebih miskin dari sebelumnya.
Orang miskin tetap miskin, orang kaya tetap kaya, dan segelintir orang miskin yang menjadi kaya tidak melakukan apa pun untuk membantu sesama mereka.
4. Hutang bisa mengendalikan seseorang
Setelah kota Roma dijarah oleh bangsa Galia, mau tidak mau republik harus menyalurkan anggaran mereka ke bidang pertahanan. Pajak naik, banyak orang yang bangkrut, dan mereka segera kewalahan dengan begitu banyak utang sampai tidak bisa melihat jalan keluar dari permasalahan ini.
Mungkin hal di atas adalah sesuatu yang terdengar akrab bagi kita. Misalnya, rata-rata orang Amerika meninggalkan perguruan tinggi dengan utang lebih dari $ 37.000 dari pinjaman siswa.
Di Australia, Swiss, Norwegia, Belanda, dan Denmark, rata-rata utang lebih dari dua kali lipat pendapatan tahunan mereka. Dilansir dari laman Finder.com.au, rata-rata orang Australia berhutang sebesar $ 250.000 per tahun.
Seperti yang terjadi saat ini, orang-orang plebeian Roma melobi pemerintah mereka untuk pengampunan utang. Dan pemerintah Romawi mendengarkan. Sekarang, secara politis mereka sama. Para pemimpin mulai menjanjikan "roti dan sirkus" — dengan kata lain hiburan, makanan, dan penghapusan utang.
Orang-orang plebeian begitu putus asa untuk memberi makan keluarga mereka sehingga mereka tidak peduli apa yang dilakukan seorang politisi selama mereka membatalkan hutang mereka.
Jadi, mereka mulai memilih pemimpin populis seperti Julius Caesar dan Augustus. Karena “roti dan sirkus” terus berdatangan, kaum plebeian tidak menjadi terlalu khawatir dan tidak ambil pusing ketika pemilihan normal tidak dilaksanakan lagi.
5. Jangan meremehkan orang barbar
Romawi berhasil mempertahankan posisinya melawan kekaisaran besar, mereka berperang dan menang melawan Yunani dan Mesir. Mereka sempat menjadi masyarakat terbesar dan paling maju, sampai Roma dihancurkan oleh orang barbar.
Semuanya mulai berbalik ketika Attila the Hun mengamuk di Kekaisaran Romawi Barat. Bagi orang Romawi, mereka adalah bangsa primitif. Pertempuran melawan mereka seperti pertempuran melawan manusia gua.
Hal ini terlihat seperti perang modern melawan terorisme. Di satu sisi, Romawi adalah negara paling maju dan kuat di dunia, dan di sisi lain bangsa Hun adalah sekelompok orang jahat yang tidak peduli jika mereka hidup atau mati.
Orang-orang Romawi pun berhasil dikalahkah. Attila menuntut setengah dari kerajaan mereka. Ketika mereka menolak, dia mengamuk, mencuri senjata pengepungan dan teknologi canggih Romawi saat dia pergi.
Pada akhirnya, orang-orang Romawi harus memenuhi semua tuntutannya. Sejak saat itu, bangsa Romawi secara teratur membayar upeti besar untuk bangsa Hun hanya agar mereka tidak menghancurkan Romawi.
6. Jangan pernah mengajarkan perang tingkat lanjut kepada orang barbar
Attila the Hun memang tidak pernah menaklukkan kota Roma, tetapi Visigoth berhasil melakukannya. Pemimpin Visigoth, Alaric, berhasil memimpin gerombolan prajurit barbar sampai ke ibukota Romawi, mengambil semua yang mereka miliki, dan menyebut dirinya berbelas kasih karena membiarkan mereka tetap hidup.
Saat itu tentara Romawi tidak berdaya untuk menghentikan gerombolan barbar, karena sebagian besar tentara Romawi adalah gerombolan barbar. Mengutip dari laman History.net, ternyata Alaric dan orang-orang yang merampok Roma telah dipersenjatai dan dilatih oleh orang-orang Romawi.
Bertahun-tahun sebelumnya, Roma mulai mempekerjakan bangsa Visigoth dan Galia untuk mengisi pasukan mereka. Akhirnya, ada begitu banyak orang barbar di pasukan Romawi sampai orang-orang Romawi hanya memanggil pasukan mereka "orang-orang barbar" untuk menghemat waktu.
Hal serupa juga bisa dilihat selama Perang Soviet-Afghanistan, saat Angkatan Darat Amerika memanggil para pejuang dari seluruh Timur Tengah untuk datang ke Afghanistan, lalu mempersenjatai dan melatih mereka.
Sama seperti Romawi yang melatih Alaric dan memberi Visigoth senjata pengepungan, Amerika melatih Osama bin Laden dan memberikan rudal Stinger kepada Taliban. Mungkin kita tidak perlu terkejut jika sejarah berulang dengan cara yang sama.
7. Negara angkat bangkrut hanya untuk anggaran militer yang besar-besaran
Salah satu masalah menjadi negara adikuasa adalah membuat negara tersebut menjadi target terbesar di dunia, dan hal ini telah terjadi pada Romawi. Ketika wilayah mereka semakin luas, ancaman terhadap mereka semakin besar dan mereka harus menuangkan semua yang mereka miliki ke dalam bidang militer.
Hal itu seharusnya telah dipelajari oleh negara adikuasa seperti Amerika Serikat. Meskipun pengeluaran militer meroket sejak peristiwa 11 September 2001, Amerika belumlah aman.
Dilansir dari Forbes, saat ini orang Amerika menyalurkan $ 598,5 miliar per tahun ke dalam militer mereka. Singkatnya, lebih dari sepertiga dari pengeluaran militer di seluruh dunia dilakukan oleh Amerika.
Orang-orang Romawi berurusan dengan pasukan mereka yang terus berkembang dengan memungut pajak. Tapi hal itu tidak benar-benar membuat segalanya lebih baik. Pajak yang besar akan membebani rakyat, sehingga pengangguran dan kemiskinan merajalela.
Setelahnya, orang-orang mulai melakukan kerusuhan di jalan untuk melawan pemerintah. Tentu ada banyak hal yang bisa dipelajari dari peristiwa ini.
8. Keruntuhan Kekaisaran Romawi tidak hanya terjadi dalam semalam
Romawi tidak runtuh dalam tumpukan api dan abu, mereka hanya dirampok oleh orang-orang barbar sampai akhir hayat mereka.
Ketika beberapa wilayah bagian Romawi mulai berselisih tentang perubahan agama dan masalah ekonomi, ia terpecah menjadi beberapa bagian sebelum secara resmi menjadi dua kerajaan yang berbeda (Romawi Barat dan Romawi Timur) pada 364 M.
Tidak lebih dari 100 tahun kemudian, Kekaisaran Romawi Barat sepenuhnya jatuh ke tangan orang-orang barbar dan garis-garis Eropa mulai tampak seperti batas kasar dari wilayah Eropa saat ini. Meskipun demikian, itu bukanlah akhir yang sebenarnya dari Kekaisaran Romawi.
Kekaisaran Romawi Timur, yang lebih dikenal sebagai Kekaisaran Bizantium, bertahan selama lebih dari 1.000 tahun setelah perpecahan Romawi. Lewat Kekaisaran Bizantium, Romawi berhasil selamat dari Perang Sasan, penaklukan Muslim, dan bahkan Perang Salib sebelum akhirnya diruntuhkan oleh Kekaisaran Ottoman.
Butuh 1.000 tahun bagi Romawi untuk mati. Mereka berhasil bertahan selama berabad-abad sebagai negara adikausa di dunia. Namun kualitas hidup mereka perlahan berubah, dan sebagian besar dari rakyat Romawi Timur mungkin tidak menyadari kalau mereka telah melalui salah satu kejatuhan peradaban terbesar pada saat itu.
Nah itu tadi 8 pelajaran yang bisa kita petik dari keruntuhan Romawi Kuno. Mungkin hal yang sama akan terjadi pada kita. Lambat laun kita memulai perang yang tidak bisa kita menangkan dan berjuang untuk melalui kebobrokan ekonomi yang tidak bisa kita tangani. Perlahan tapi pasti, peradaban kita akan menjadi tidak lebih dari satu bab dalam buku sejarah di masa depan.
Gimana? Seru, bukan? Membaca kisahnya tidak hanya menambah wawasan dan pengetahuan kalian saja, tapi kalian juga bisa mengambil makna dari kisahnya ya..














Tidak ada komentar:
Posting Komentar